Sistem Pendidikan di Jerman. Apa yang Istimewa?
Berkat ratusan prestasi tersebut, Jerman menjadi salah satu kiblat pendidikan dunia, seperti dikutip dari website pendidikan Eduversity.co.id.
Berbagai program yang diselenggarakan dan diterapkan dalam sistem pendidikan berbagai negara, khususnya Indonesia, diadaptasi dari Jerman. Sebenarnya apa yang menjadi keunikan sistem pendidikan di Jerman, sehingga menjadi pilihan utama bagi para mahasiswa khususnya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi?
Untuk tingkat taman kanak-kanak, sekolah dasar hingga sekolah menengah, Jerman memiliki kualifikasi tersendiri.
Jerman memiliki sekolah khusus bagi anak nakal yang telah memasuki usia sekolah dasar, tetapi masih terhambat dalam perkembangannya atau berkebutuhan khusus yang disebut sebagai Verlassen.
Selanjutnya, siswa tidak perlu menyelesaikan ujian akhir sekolah selayaknya yang berlaku di Indonesia. Untuk menentukan apakah siswa layak untuk lulus, maka dilakukan akumulasi penilaian sejak kelas 2 hingga kelas 4 dengan skala 1-6. Di mana nilai 6 adalah skala terendah.
Untuk tingkat sekolah menengah dibagi menjadi dua, yakni Sekundarstufe I dan Sekundarstufe II. Dua jenis sekolah ini sama bentuknya seperti SMP dan SMA di Indonesia.
Perbedaannya, jika di Indonesia pendidikan SMP hanya 3 tahun saja, di Jerman Sekundarstufe I dikhususkan bagi siswa usia 10-16 tahun yang berarti dilakukan selama 6 tahun pendidikan. Untuk selanjutnya naik ke Sekundarstufe II bagi siswa usia 16-18 tahun.
Visi dan misi sekolah menengah di Indonesia dan Jerman sedikitnya adalah sama, yakni mengikutserakan siswa pada bidang intelektual, jasmani dan juga rohani. Juga diajarkan mengenai kemandirian, tanggung jawab, baik dalam lingkungan sosial maupun politik.
Jenjang Sistem Pendidikan di Jerman
Sekolah menengah di Jerman juga banyak sekali jenisnya, di antaranya sebagai berikut :
- Gymnasium
- Hauptschule
- Realschule
Ketiganya memiliki standar kurikulum dan target yang berbeda-beda. Gymnasium fokus pada siswa yang akan melanjutkan pendidikan ke universitas, hingga pada akhir pendidikan akan diadakan semacam ujian kompetensi untuk mendapatkan ijazah sebagai modal untuk mendaftar ke universitas.
Mata pelajaran yang diajarkan pun tidak jauh berbeda dengan SMA di Indonesia. Berbeda halnya dengan Hauptschule yang mempersiapkan siswanya untuk magang selain belajar di kelas. Sementara untuk Realschule menggabungkan keduanya, antara Gymnasium dan Hauptschule.
Sementara itu, dalam jenjang pendidikan tinggi di Jerman dibagi menjadi tiga rumpun, yakni :
1. Kesenian
Jurusan ini sangat cocok bagi Anda yang memiliki minat besar pada design, film dan televisi, fine arts, sejarah seni dan komunikasi, media digital, sejarah dan pengajar musik.
2. Ilmu pengetahuan "Fachhochschulen"
Jurusan ini terdiri dari beberapa bidang ilmu, di antaranya desain, teknologi, bisnis dan sosiologi.
3. Tenaga profesional "Berufsakademie"
Berbagai bidang ilmu yang membutuhkan praktek lapangan akan Anda temui di sini. Bidang ilmu pada jurusan ini tentunya tidak terus menerus terpaku pada teori, tetapi lebih menekankan pada praktek lapangan.
Satu hal yang penting, pendidikan tinggi di Jerman tidak dipungut biaya. Anda hanya perlu membayar biaya kontribusi per semesternya, yang merupakan biaya penunjang fasilitas, seperti perpustakaan hingga transportasi.
Hal yang membuat banyak mata tertuju pada Jerman adalah banyak perusahaan yang bersedia menjadi sponsor untuk berbagai jenis penelitian.
Bahkan terhitung sangat mudah mendapatkan donatur untuk penelitian. Hal ini menunjukkan background negara Jerman yang peduli dan menomorsatukan pendidikan.
Semoga bermanfaat.
dikarenakan wilayah yang luas, dan kepala di negeri wakanda bermacam dan nggak manut dengan satu sumber, sistem dijerman ini. kurang cocok untuk wakanda mas. heheheh
BalasHapusNegeri Wakanda mah nggak akan cocok dengan manajemen manapun, lha wong sekarepe dewek, wkwkwk
HapusSepertinya RI perlu belajar banyak dari Jerman ya kang soal sistem pendidikan ini. Masalah pendidikan cukup krusial dalam memajukan generasi penerus bangsa. Kalau sistemnya di rubah bukan hal yang mustahil kalau negara kita banyak menghasilkan orang-orang pintar sekelas Alm. BJ Habibie yang bisa mengharumkan nama bangsa.
BalasHapusMasih nggak mau belajar Mang, marales. Ngurusinnya perut dewek-dewek bae, hehehehe....
Hapus